Selasa, 14 Februari 2012

HARUS BAGAIMANA MASYARAKAT DENGAN KORUPSI


(Belajar Dari Orang-Orang Romawi-Arnold Joseph Toynbee)

          Korupsi. Berbicara korupsi mungkin tak akan ada habis-habisnya, apalagi dengan situasi dan kondisi negara kita ini. mendengarkannya saja sudah seperti sebuah lagu yang wajib ada setiap stasiun TV, lumrah. Bisa jadi masyarakat sudah tak ambil pusing tentang korupsi “ ya, biar aja, mau korupsi yo udah yang penting kita tetap makan dan usaha sendiri aja, toh mereka mendapat imbalannya di akhirat nanti”. Demikian kebanyakan masyarakat awam memandangnya, tapi apa mungkin kita tetap membiarkan mereka menikmatinya tanpa usaha sedikitpun, dan mengharapkan semua di balas di akhirat..? mau kemana negara kita di bawa saat ini, dibawah mereka (koruptor)...?

Banyak defenisi dari korupsi, tergantung pada perspektif apa yang digunakan. Defenisi korupsi menurut perspektif keadilan atau pendekatan hukum misalnya mengatakan bahwa korupsi adalah mengambil bagian yang bukan menjadi haknya. Sehingga korupsi adalah mengambil secara tidak jujur perbendaharaan milik publik atau barang yang diadakan dari pajak yang dibayarkan masyarakat untuk kepentingan memperkaya dirinya sendiri. Korupsi adalah tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi suatu jabatan secara sengaja untuk memperoleh keuntungan berupa status, kekayaan atau uang untuk perorangan, keluarga dekat atau kelompok sendiri. Perspektif atau pendekatan relatifisme kultural yang strukturalist, bisa saja mengatakan pemaksaan untuk menyeragamkan berbagai pemerintahan lokal menyebabkan budaya asli setempat tidak berkembang, melemahkan keberadaannya untuk diganti dengan budaya yang dominan milik penguasa adalah tindakan korupsi struktural terhadap persoalan kultural. Pendekatan atau perspektif orang awam dengan lugas mengatakan menggelapkan uang kantor, menyalahgunakan wewenangnya untuk menerima suap, menikmati gaji buta tanpa bekerja secara serius adalah tindakan korupsi. Bisa saja hal itu dikatakan untuk menjelaskan hal yang kita benci dan akan kita jinakkan. Namun apapun perspektif yang digunakan, yang pasti korupsi adalah segala sesuatu yang pada hakikatnya adalah tindakan yang sangat merugikan oranglain dengan mengambil keuntungannya dan dengan cara apapun. Menghilangkan korupsi bukanlah perkara gampang karena ia telah berurat berakar dan menjalar kemana-mana di negeri kita ini. Tidak semua orang rela jalan pintasnya untuk kaya diungkit-ungkit. Adalagi yang menjelaskan mereka korupsi kecil-kecilan karena terpaksa oleh keadaan. Gaji kecil yang tidak mencukupi untuk hidup yang layak dari bulan ke bulan menjadi alasan untuk membenamkan diri. Apalagi kalau hampir semua orang di tempat itu telah menganggap hal itu adalah hal yang biasa. Tahu sama tahu, untuk tidak mengatakan atasan mereka juga melakukan hal yang sama.
Akibatnya, mulai dari persoalan yang besar yang tak pernah terungkap, bahkan yang terkecilpun menjadi begitu terasa berat untuk di selesaikan pemerintah kita saat ini. bukan hanya itu Kita juga dihadapkan pada masalah-masalah dalam negri yang begitu kompleks dan sudah menjadi sistematis.
Politik yang berorientasi hanya pada kekuasaan, ekonomi yang pada laporannya makin membaik namun dirasakan rakyat semakin menghimpit, moralitas membusuk dari atas hingga ke bawah, pendidikan yang hanya di jadikan sebuah pencarian gelar, teori tanpa aplikasi serta semakin berjarak dengan tantangan real, dan sebagainya. Semuanya itu dapat kita katakan adalah dampak atau berdampak pada korupsi yang merajalela baik didalam kalangan Eksekutif, Legislatif maupun Yudikatif (tidak semua) hingga masyarakat itu sendiri.
Bila kita perhatikan pemerintahan romawi yang mampu membangun sebuah negara yang begitu kecil menjadi sebuah imperium yang terbesar dan terkuat di zamannya , ini di karenakan oleh minoritas kreatif (Arnold Joseph Toynbee). Dimulai dengan perluasan lahan (dikarenakan sempitnya lahan), menciptakan sistem ekonomi dengan mengandalkan kekuatan para budak (tidak mempunyai tenaga kerja). Mengapa..? jelas, minoritas kreatif berani untuk maju ke depan dan mengubah negara tersebut.

          Sedangkan kita, wilayah kita demikian luas, tanah yang subur, yang kaya mineral (yang membuat negaralain iri). Kita bukannya kekurangan tenaga kerja, malah sebaliknya kelebihan dengan pengangguran yang dari tahun ke tahun membengkak.
           
Singkatnya..
 
Dengan pikiran dan tindakan kreatif mustinya politik kita tidak lagi memperkuda rakyat demi kekuasaan, tapi benar-benar demi dan untuk rakyat yang telah rela untuk menjadi “kuda”nya. Ekonomi kita harusnya tidak lagi nelangsa seperti ini,  pendidikan mampu menjawab setiap tantangan yang bukan hanya berharap jadi PNS..!!

          Semua itu tidak terjadi, masalahnya dimana “minoritas kreatif” kita..? lebih radikal lagi pertanyaannya : maukah kita menjadi minoritas kreatif itu...?









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar